SWARAPUBLIK

Asal-Usul Nasi Padang: Kisah Lezat di Balik Makanan Berjuta Peminat

SWARAPUBLIK – Nasi Padang merupakan makanan asal Minangkabau, Sumatera Barat, terkenal dengan keberagaman lauk pauknya yang bisa dipilih bebas oleh konsumen.

Dilansir dari berbagai sumber, Nasi Padang telah menjadi salah satu komoditas ekspor paling terkenal, dan kontribusi besar untuk masakan Indonesia berasal dari masyarakat Minangkabau.

Asal-usul Nasi Padang dapat ditelusuri kembali ke era kolonial Belanda di Indonesia. Pada saat itu, banyak penduduk dari berbagai daerah, termasuk Sumatera Barat, bermigrasi ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Tujuan mereka bermigrasi yakni untuk mengubah nasib atau mencari pekerjaan. Awalnya Nasi Padang hanya memiliki lauk sederhana seperti ayam, ikan, telur, atau sayur-sayuran.

Namun pada tahun 1940-an, seorang pengusaha bernama Siti Fatimah membuka kedai makan khas Padang di Jakarta. Mulai dari situ, Nasi Padang terkenal di Jakarta dan sekitarnya.

Ada dua jenis metode melayani di sebuah restoran Padang, pesan (ordering) dan hidang (serving). Pesan adalah cara yang paling umum biasanya dilakukan oleh satu atau dua pelanggan pelanggan memeriksa jendela tampilan dan memilih hidangan yang mereka inginkan.

Untuk metode hidang, pelaggan memesan langsung kepada pelayan di depan dekat etalase atau jendela display, dan hidangan segera disajikan. Hal ini biasanya umum dilakukan dalam skala kecil restoran Padang.

Pada restoran Padang yang lebih besar, hidang meriah (melayani) biasanya dilakukan. Perjamuan hidangan paling cocok untuk makan dalam kelompok.

Setelah pelanggan duduk, mereka tidak harus memesan. Pelayan dengan piring ditumpuk di atas tangan mereka, akan segera menyajikan hidangan di atas meja.

Pelayan dengan cepat akan mengatur banyak piring kecil yang penuh dengan kaya rasa makanan. Seperti daging sapi rendang, kari ikan, direbus sayuran, cabai, terong, dan banyak lagi.

Lusinan piring adalah jumlah yang normal, bahkan bisa mencapai 14 hidangan atau lebih. Nasi Padang akan langsung ada di meja secara prasmanan.

Pelanggan hanya membayar apa yang mereka konsumsi dari prasmanan. Cara makan makanan di Minang adalah hal umum untuk makan dengan satu tangan.

Mereka biasanya memberikan kobokan, mangkuk kecil yang berisi air dengan irisan jeruk nipis di dalamnya untuk memberikan aroma segar. Air ini digunakan untuk mencuci tangan sebelum dan setelah makan.

Editor:
Denny Surya

Exit mobile version