Bandung, SPOL — Peringatan Hari Ibu menjadi momentum reflektif dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar anggota MPR RI, Nurul Arifin.
Dalam forum tersebut, politisi senior Partai Golkar ini menekankan peran strategis ibu sebagai fondasi utama pendidikan karakter sekaligus agen perubahan dalam menjaga jati diri bangsa.
Menurut Nurul, nilai-nilai kebangsaan tidak lahir pertama kali di ruang kelas formal, melainkan tumbuh dari lingkungan keluarga.
Di sanalah, kata dia, peran ibu menjadi penentu arah pembentukan karakter generasi muda.
“Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dari rahim dan asuhan ibu, nilai-nilai Pancasila, kebangsaan, dan kemanusiaan mulai dikenalkan,” ujar Nurul Arifin dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Sosialisasi 4 Pilar MPR RI. Senin, 15 Desember 2025.
Menurut Nurul, empat Pilar MPR RI—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, akan kehilangan makna jika tidak ditanamkan secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari.
Peran ibu, lanjutnya, menjadi kunci dalam menjembatani nilai-nilai tersebut agar tidak berhenti sebagai hafalan.
Nurul menyebut ibu bukan hanya pendidik pertama, tetapi juga agen perubahan sosial yang bekerja secara senyap namun berkelanjutan.
Dari rumah, para ibu ikut menentukan apakah nilai gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air tetap hidup atau justru tergerus zaman.
“Kalau kita ingin bangsa ini kuat, maka perkuatlah peran ibu. Ibu adalah agen perubahan yang melestarikan jati diri bangsa dari generasi ke generasi,” kata Nurul.
Dalam konteks tantangan digital dan perubahan sosial yang cepat, Nurul menilai peran ibu justru semakin penting.
Arus informasi yang deras, menurut dia, menuntut keteladanan yang konsisten di rumah agar anak-anak tidak kehilangan orientasi nilai.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dikemas menjelang peringatan Hari Ibu itu diharapkan menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada kebijakan negara, tetapi juga pada ketahanan nilai di tingkat keluarga.
“Negara boleh berganti kebijakan, zaman boleh berubah, tapi nilai kebangsaan harus terus hidup. Dan penjaga terdepan nilai itu adalah para ibu,” tutur Nurul Arifin.***












